USAHA DAN DOA 005
Suatu
hari seorang pedagang yang bernama Syaikkh Abu Mudhafar Hasan bin Tamim
Al-Baghdadi datang menemui Syaikh Hammad bin Muslim bin Darwah ad-Dabbas hendak
meminta nasihat.. Syaikkh Mudhaffar berkata kepada Syekkh Hammad, “Tuan!
Khafilah kami telah siap pergi ke Syam dengan membawa komoditas seharga tujuh
ratus dinar”. Syekkh Hammad menjawab,”Jika kamu pergi tahun ini maka kau akan
terbunuh dan hartamu akan di rampok.”Setelah mendengar keterangan Syaikh Hammad
itu, dengan perasaan sedih Syaikh
Mudhafar memohon pamit pergi meninggalkan
Syaikh Hammad. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Syaikkh Abdul Qadir Al
Jilani, lalu ia menceritakan kepada Syaikkh Abdul Qadir tentang yang
dikatakannya oleh Syaikh Hammad. mendengar keterangan tersebut Syaikkh Abdul
Qadir pun berkata, “Pergilah !, Engkau engkau akan selamat dan akan pulang
dengan keadaan kaya. Saya menjadi jaminan (atas akibat yang akan di timbulkan)
itu semua.” Setelah mendapat jaminan dari Syaikkh Abdul Qadir itu, Syaikh Mudhafar merasa sedikit lega. Kemudian ia berangkat ke
Syam dan menjual barang-barang dagangannya dengan membawa keuntungan besar
sebanyak seribu dinar. Dengan perasaan bahagia ia pulang. Di tengah perjalanan
tepatnya di Desa Halab, ia hendak buang hajat di kamar mandi, dan uang sebanyak
seribu dinar itu diletakkan di atas rak kamar mandi. Setelah buang hajat ia
langsung pulang sampai lupa pada uang yang disimpan di atas rak kamar mandi
tadi. Setelah sampai di rumah ia tertidur dengan nyenyak, dalam tidurnya ia
bermimpi ia berada dalam suatu khafilah yang dihadang oleh perampok. Mereka
merampas barang-barangnya dan membunuh orang-orang yang ada dalam khafilah itu
dan dia di datangi oleh seseorang kemudian orang itu menusuk tombak dan membunuhnya.
Sehinggah ia terbangun dan terkejut, karena ia mendapat sisa darah di lehernya
dan merasa perih. Setelah merenungi mimpi yang sangat dahsyat dan kenyataan
yang di alami pada dirinya itu, Syaikh Hammad pun teringat denga uang seribu
dinar yang masih tertinggal di kamar mandi dan ia langsung menuju kamar mandi
itu untuk mengeceknya masih ada atau hilang diambil orang. Ternyata uang itu
masih utuh sejumlah seribu dinar.
Kemudian ia pulang ke Baghdad dengan perasaan
penuh syukur karena dirinya tetap selamat dan uangnya masih tetap utuh. Setelah
masuk kota Baghdad ia hendak menemui kedua Syaikh Hammad dan Syaikkh Abdul
Qadir sambil berkata pada dirinya sendiri “ Jika saya menemui Syaikh Hammad
terlebih dahulu karena beliau lebih tua sebaliknya, jika kepada SA maka karena beliau yang benar
pekataanya.”
Di tengah kebingungannya ia bertemu dengan
Syaikh Hammad di Pasar. Syaikh Hammad yang seolah-olah sudah tahu apa yang
sedang ada dalam benak Syaikh
Mudhafar, berkata, “Wahai Syaikh Mudhafar mulailah dengan SA karena ia dicintai olah
Allah. Ia sungguh telah berdoa kepada Allah untukmu tujuh belas kali, sehinggah
pembunuhan yang di takdirkan kepadamu pada waktu sadar dijadikan pada waktu
tidur dan kefakiran (kerugian) yang nyatanya dijadikan kelupaan.
Mendengar pernyataan yang menyakinkan dari Syaikh Hammad itu Syaikh Mudhafar
datang menemui Syaikkh Abdul Qadir lalu menceritakan semua kejadiannya dari
awal, Syaikkh Abdul Qadir berkata,
“Syaikh Hammad
telah berkata bahwa kepadamu bahwa aku telah memohon kepada Allah untukmu tujuh
belas kali. Ketahuilalah demi Kemuliaan
Yang Disembah aku telah memohon kepada Allah untukmu tujuh belas kali
dan tujuh puluh kali hinggah terjadi apa yang di inginkan.
Untungnya
Syaikh Mudhafar di bantu degan adanya doa di samping beliau
sendiri berusaha agar mendapat apa yang diinginkanya. Begitulah seharusnya
setiap orang harus berusaha, bekerja dan jangan sampai menyepelekan doa .
Ingatlah, “Doa itu otaknya ibadah “
Kata Nabi , kerja Jika di
Niatkan dengan ibadah, maka akan jadi ibadah. Nah banyangkan jika manusia
dengan kesempurnaan fisiknya ini tidak punya otak, apa yang akan terjadi ?
tentu ia tidak mengerti mana yang baik dan buruk. Jika tidak mengerti mana yang
baik dan mana yang buruk berarti manusia
tidak ubahnya dengan binatang. Yang dijadikan ukuran kebenaran adalah hanya
sesuai dengan hawa nafsunya.
Begitu
juga dalam beribadah , dalam hal ini berusaha atau bekerja jika tidak disertai
dengan doa maka hasilnya sia-sia. Boleh untung bayak atau kariernya melejit ,
tetapi tidak berkah; bisa uangnya cepat habis ataupun usaha atau kerjanya tidak
maju-maju. Serta jika kita berusaha ingin mendapatkan kelulusan misalnya ingin
masuk dalam perguruan tinggi dan kitapun telah berusaha mulai dari pendaftaran,
mengikuti beberapa tes namun tidak di iringi dengan doa maka bisa jadi apa yang
kita inginkan tidak kita dapatkan.
Jadi
berusahalah dengan sekeras mungkin dan berdoa denga setulus mungkin
dihadapan-Nya. Insya Allah apa yang anda inginkan akan dikabulkan
Pelindung/penasehat: Dekan FIK UNM, Drs. H.
Arifuddin Usman M. Kes. Pembina:
Drs Muhammadong S.Ag.,M.Ag, dan H. Amri Rahman Lc M.Pd.I Penanggung jawab: Ketua Umum Study Club Ar Riyadhoh BEM FIK
UNM dan Ketua Depertemen Informasi Dan Komunikasi. Pimpinan redaksi: Irzan. Korlip: Muh. Agus. Reporter/redaktur:
Asrullah
0 Response to "USAHA DAN DOA 005"
Posting Komentar