KEUTAMAAN SABAR 004
apa itu shabar ?
Shabar merupakan salah
satu sikap yang terpuji dan shabar ini memiliki arti sebagai berikut :
ü secara bahasa :menahan,
mengekang.[1]
ü secara terminologi Qur-an :Menahan
diri atas sesuatu yang tidak disuka dan/atau disukai karena mengaharap ridha
Allah.[2]
QS.
An Nahl : 126-127

dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bershabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang shabar. bershabarlah (hai, muhammad) dan tiadalah keshabaran itu melainkan dengan pertalangan allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. jenis-jenis shabar
arena sesuatu yang tak disukai adalah
beraneka ragam dan banyak sekali, maka aspek keshabaran mestilah luas sekali.
Pengelompokannya adalah sebagai berikut :
1.
Shabar Fisik
Contoh : menahan sakit/luka, memikul benda berat, dsb.
2.
Shabar Non Fisik
Contoh
: ‘iffah (menahan syahwat
perut & kemaluan), syaja’ah (menahan rasa takut dalam
perang), qana’ah (berpuas diri dengan yang ada di tangan), zuhud
(shabar dalam kelapangan), hilmu (mengekang kemarahan), dsb.
Shabar adalah ciri khas manusia
Al Ghazali menjelaskan
dalam Ihya’ ‘Ulumuddiin, Juz V, hal 62-63 bahwa :
Hewan dikuasai
sepenuhnya oleh syahwat. Ia tidak
memiliki daya dorong (shabar) untuk melawan dan menolak keinginan
syahwat dari dalam dirinya. Sebaliknya malaikat, ia dibersihkan dari syahwat
sehingga cenderung mendekat kepada kesucian. Ia tidak membutuhkan daya dorong (shabar) untuk melawan dan
menolak syahwat, karena tidak memilikinya.
Oleh sebab itu shabar
adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tak terdapat pada hewan sebagai faktor
kekurangannya dan pada malaikat sebagai faktor kesempurnaannya. Sifat yang
membedakan manusia dari hewan dalam menentang syahwat dan menundukannya ini
dinamakan daya dorong relijius. Sedangkan tuntutan syahwat disebut daya
dorong syahwat (al hawaa’). Keduanya senantiasa berperang dalam seuatu
medan peperangan yang disebut qalbu. Maka, shabar adalah ungkapan
tentang ketegaran dorongan relijus dalam melawan dorongan syahwat. Orang yang
senantiasa menghadirkan perlawanan terhadap syahwat bahkan tegar dan mampu
mengalahkannya, maka ia mencapai maqam orang-orang yang shabar.
Shabar bukan masalah
sekunder dan pelengkap, tetapi masalah primer yang dibutuhkan manusia untuk
meningkatkan kualitas material dan moralnya, untuk mencapai kebahagiaan
individual dan komunal Satu-satunya shabar yang diakomodir dalam syari’at Allah
ini adalah shabar karena Allah.[3]
Adapun shabar yang diunggulkan Allah adalah shabar pada waktunya.[4]
keutamaan Shabar
Shabar dalam Islam
menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh peribadatan yang manapun
juga, dengan keunggulan-keungulan sebagai berikut :
1. Shabar
adalah ciri keimanan (QS. Al Baqarah : 177)
2. Shabar
adalah ciri khas yang hanya ada pada manusia
Imam Al Ghazali menjelaskan : “Shabar merupakan refleksi ketegaran dorongan religius atas perlawanan terhadap dorongan syahwat.”[5]
3. Shabar
adalah kebutuhan duniawi dan keagamaan.
Abu Thalib al Makki : “Ketahuilah bahwa banyaknya kemaksiatan yang dilakukan
adalah karena dua hal :
a)
sedikitnya keshabaran atas hal-hal yang disenangi
b)
sedikitnya keshabaran atas hal-hal yang tak disukai .”[6]
4. Shabar
adalah kebutuhan pokok semua orang terutama kaum mu’minin.[7]
5. Shabar
adalah pembersihan orang-orang yang munafiq dari komunitas mu’min.[8]
Shabar
adalah pembinaan, penyucian hati dan pembersih timbangan pahala orang-orang
mu’min
Pelindung/penasehat: Dekan FIK UNM, Drs. H. Arifuddin
Usman M. Kes. Pembina: Drs
Muhammadong S.Ag.,M.Ag, dan H. Amri Rahman Lc M.Pd.I Penanggung jawab: Ketua Umum Study Club Ar Riyadhoh BEM FIK
UNM dan Ketua Depertemen Informasi Dan Komunikasi. Pimpinan redaksi: Irzan. Korlip: Muh. Agus. Reporter/redaktur:
Asrullah
0 Response to "KEUTAMAAN SABAR 004"
Posting Komentar